[EXCLUSIVE INTERVIEW] – Kurniawan Dwi Yulianto Ungkap Alasan Terima Tawaran Como FC dan Legacy untuk Sepak Bola Indonesia.
Kota Jakarta (TGN) — Legenda hidup sepak bola Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, hadir menyapa penggemar dalam acara Fancon 2025. Dalam wawancara eksklusif, Kurniawan—yang pensiun sebagai pemain pada tahun 2005 namun kini meniti karir kepelatihan—berbagi pandangan tentang pentingnya regenerasi nilai-nilai positif, transisi karir, hingga keputusannya bergabung dengan klub Serie B Italia, Como FC.
Sesi wawancara dibuka dengan pembahasan tentang antusiasme penonton, di mana banyak orang tua membawa anak-anak mereka untuk bertemu langsung dengan sang legenda. Kurniawan Dwi Yulianto menekankan bahwa interaksi sehat ini adalah peluang emas untuk menanamkan nilai-nilai baik.
“Saya ingin menularkan aura positif tentang sepak bola,” ujar Kurniawan. “Dalam sepak bola itu, kita belajar tentang bagaimana seorang pemain itu harus bekerjasama dan yang paling penting adalah kedisiplinan para pemain.”
Ia berharap para orang tua membiarkan anak-anak bermain bola untuk belajar disiplin, mencontoh pentingnya menjaga lawan atau fokus di lapangan setiap detiknya.

Kurniawan tak menampik bahwa transisi dari pemain menjadi pelatih adalah proses yang tidak mudah. Ia menggambarkan perubahan mendasar ini secara kontras.
”Kita sebagai pemain itu selalu dilayani. Tapi begitu sebagai pelatih, kita harus nggak bisa mengedepankan ego kita,” jelasnya.
Menjadi pelatih menuntutnya untuk belajar memanajemen banyak kepala dengan tujuan yang sama. Ia bersyukur bisa melewati coaching process ini dengan memulai dari akademi dan sekolah bola. “Untuk menyenangkan semua itu nggak mungkin, tapi minimal tidak mengecewakan banyak orang,” tambahnya.
Sebagai pemain kelahiran Magelang yang pernah mencicipi Liga Italia bersama Sampdoria pada tahun 1994, tawaran untuk kembali ke Italia sebagai assistant coach di Como FC membawa makna personal yang mendalam. Kurniawan mengungkapkan prinsip yang mendasari keputusannya.
“Saya itu orang yang satu suka tantangan, dua, saya lebih baik menjadi, memulai atau menjadi ikan kecil di kolam yang besar,” tegasnya.
Baginya, tawaran Como FC adalah kesempatan untuk meng-update dan meningkatkan level kepelatihannya. Ia tidak pernah ragu mengambil peluang yang dapat memperkaya ‘buku pelatihan’ dan meningkatkan level profesionalisme dirinya. “Kalau kita bicara puas, sebab tentu nggak ada puasnya, ketika kita mau meningkatkan level,” katanya.
Menutup wawancara dengan tema “More Than Just a Football Life,” Kurniawan Dwi Yulianto menyampaikan warisan terpenting yang ingin ia tinggalkan bagi generasi muda dan kemajuan sepak bola Indonesia.
“Apapun yang saya pelajari, apapun yang saya dapatkan di luar sana, end-to-end, saya ingin berbakti ke negara ini,” janji Kurniawan.
Fokus utamanya adalah membenahi isu profesionalisme yang menurutnya masih kurang di Indonesia. Di negara kita, masih sering terjadi “pembiaran” atau “bisa dimaafkan.”
“Ketika kita bicara profesional, itu kan hitam atau putih, tidak ada abu-abunya,” pungkasnya.
“Ketika saya dulu main bola di Italia, dan ketika saya latih di Italia kemarin, arti profesional itu sama di mereka, itu tidak berubah. Ini sudah menjadi bagian dari sepak bola itu sendiri, dan itu saya inginnya bisa semakin besar di Indonesia.”
Kurniawan berharap dapat menularkan mentalitas profesionalisme ini, mengajarkan pentingnya menghargai, meningkatkan, dan memelihara value diri sebagai atlet, dimulai dari usia dini.*** (UBD/PU-FKD-007)
